MENYULAM CAHAYA DI ATAS LUKA
Karya : Ni Luh Rai Asri Arsini, S.Pd
Dinding kamar itu seolah makin menyempit, menghimpit sisa-sisa ruang napas Adhisna Prameswari Putri. Di luar sana, riuh gemuruh dunia terus menuntutnya bersolek kepura-puraan, berpura-pura utuh dan berpura-pura bahwa jiwanya tak pernah luluh lantak. Namun sore itu, ketika jemarinya yang gemetar merapikan tumpukan pakaian tua di sudut lemari, matanya tertambat pada sebungkus kain beludru hitam yang kusam berdebu. Di dalamnya, tersimpan rapat sebuah gawai lama, benda mati yang sekian tahun ia benamkan bersama kenangan paling berdarah dalam perjalanan hidupnya.
Dengan napas yang tercekat di kerongkongan, Adhisna menekan tombol daya. Layar yang sekian lama gulita mendadak menyala, memantulkan bayangan wajahnya yang pucat dengan netra yang menyimpan telaga duka. Jarinya bergerak sendiri tanpa komando, membuka album foto dan video. Detik itu juga, gemuruh retakan yang hening merubuhkan seluruh benteng pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun dengan susah payah.
Di layar kaca yang dingin, hadir kembali sosok suaminya. Lelaki itu tersenyum dengan senyum paling tulus, meski wajahnya tirus dan sorot matanya redup di atas ranjang rumah sakit. Memori sebulan lebih di tengah kecamuk badai Covid-19 kembali menghantam dada Adhisna tanpa ampun.
Keheningan bangsal yang mencekam, deru mesin pernapasan yang monoton, serta rasa cemas yang menguliti jiwanya saban detik. Perjuangan sengit melawan maut itu berakhir tragis pada tanggal 13 Juli 2020, hari di mana takdir merenggut belahan jiwanya tanpa sempat memberi jeda untuk
berpamitan secara pantas. Hidup Adhisna runtuh berantakan. Tuhan terasa begitu jauh, dingin, dan tak berpihak.
Ia menekan tombol putar pada sebuah rekaman video singkat. Suara serak sang suami mengalun gemetar, memecah kesunyian kamar yang sepi ;
“ Disna… hidupmu tidak boleh berhenti di titik ini.
Kejar masa depanmu, walau nantinya tak lagi bersamaku.
Jaga buah hati kita, Ishana.
Jangan biarkan ia tumbuh tanpa merasakan kehangatan
kasih sayang yang utuh. Saya ikhlas melepasmu”;
Air mata Adhisna pecah, menganak sungai dan membasahi layar gawai. Sejak kecil, ia menggenggam teguh ikrar suci bahwa pernikahan adalah takdir sekali seumur hidup. Prinsip itu membatu, membuatnya mengunci rapat-rapat pintu hatinya dan menjadikan dirinya cangkang kosong yang menolak disentuh harapan baru. Namun, pesan terakhir itu bagaikan sembilu yang memotong ikatan duka yang mengurungnya selama ini.
Lelah ditelan kepedihan batin yang tak kunjung mengering, Adhisna memutuskan berhenti sejenak dari pengasingan jiwanya. Ia memilih melangkah ke Buleleng, mengetuk pintu kediaman sahabatnya, Ayu Dwi Handayani. Di Puri Saroon Hotel, sambil menatap riak gelombang laut utara Bali yang tenang, ia membiarkan angin malam membelai rambutnya, mengikis sedikit demi sedikit kelelahan jiwa yang menumpuk.
“Kamu sudah terlalu lama memikul beban ini sendirian, Disna”, bisik Ayu Dwi lembut malam itu, mengusap punggung tangannya yang dingin.
“Biarkan hatimu yang lelah ini beristirahat”;
Perjalanan menyembuhkan luka berlanjut. Langkah kakinya membawanya menuju Pura Ulun Danu Songan, menyerap keheningan danau yang dibalut kabut tipis. Di sana, di hadapan keagungan alam,
Adhisna memanjatkan doa-doa tanpa kata, hanya berupa kepasrahan yang pekat. Titik balik itu tiba ketika ia menapaki anak tangga menuju Taman Beji Waterfall untuk melukat. Air suci yang dingin mengalir deras dari pancoran alami, membasahi raga dan jiwanya yang dahaga. Saat gemericik air menyentuh puncak kepalanya,
Adhisna merasakan kehangatan misterius yang tak terlukiskan. Ia memejamkan mata, membiarkan semua rasa sakit, amarah pada takdir, dan duka yang membatu hanyut terbawa arus sungai yang deras.
Beberapa waktu setelah ia menguatkan baktinya di Pura Lempuyang, takdir perlahan merajut Kembali kepingan hidupnya yang berserakan. Ia diterima sebagai guru PPPK, sebuah kepastian yang menopang masa depannya bersama Ishana. Dan di Taman Beji Waterfall itu pula, seolah-olah Semesta merangkul tiap bisikan doanya, ia dipertemukan dengan seseorang yang hadir membawa ketulusan tenang, perlahan membuka kembali pintu hati yang sekian lama terkunci rapat. Namun, proses menjadi utuh kembali tak pernah
berjalan mulus. Dunia luar tak berhenti menghakimi. Bisik-bisik miring dari orang-orang sekitar kerap hinggap tanpa permisi.
“Masih muda sudah janda, bebas memilih pria lagi”
Kata-kata itu menusuk sembilu, seolah-olah kehilangannya adalah sebuah keuntungan, seolah-olah duka cita yang mengoyak jiwanya hanyalah ajang pencarian pasangan baru.
Suatu malam, Adhisna berdiri diam di depan cermin. Bayangan perempuan di hadapannya tampak begitu rapuh namun sekaligus menyimpan ketangguhan yang tersirat. Badai batin membuncah di dadanya:
Haruskah ia tetap bersembunyi di balik cangkang trauma dan membiarkan ekspektasi orang lain mendikte kehidupannya?
Atau berani melangkah maju, memeluk takdir baru yang tak pernah ia duga ini?
Ia menatap foto Ishana yang sedang tertidur pulas.
Senyum mungil buah hatinya adalah alasan paling nyata bahwa hidup tak boleh padam.
“Aku tidak bisa mengubah masa lalu” bisik Adhisna pada bayangannya di cermin, dengan napas terembus panjang yang menyalurkan kedamaian baru ke dalam dadanya.
“Tapi aku berhak atas masa depan yang bahagia bersama Ishana”
Malam itu terjadi catharsis yang sejati. Tak ada lagi tangisan histeris yang meratapi takdir, melainkan kepasrahan yang menentramkan. Adhisna memeluk ketidaksempurnaan takdirnya dengan penuh kasih. Ia memaafkan keadaan, memaafkan dirinya sendiri, dan merangkul status serta bekas lukanya sebagai jalinan benang emas yang memperindah lukisan hidupnya.
Keesokan harinya, fajar menyingsing membawa sinar emas yang hangat. Adhisna melangkah keluar rumah dengan tatapan mata yang jernih dan mantap. Pakaian mengajarnya terpasang rapi, dan genggaman tangannya pada jemari kecil Ishana terasa begitu hangat dan kuat.
Dunia di luarnya tidak berubah, masih bising, masih penuh dengan kebetulan dan penilaian manusia. Namun, jiwa di dalam dirinya telah sepenuhnya bersalin rupa. Ia tak lagi melangkah dengan serpihan penyesalan, melainkan dengan ketenangan seorang jiwa yang telah berhasil menaklukkan badai terhebat di dalam hatinya sendiri. Sebab pada akhirnya, Adhisna memahami satu kebenaran yang tersurat dari perjalanan panjangnya:
“Perjalanan terjauh dan paling menentukan dalam hidup manusia bukanlah melintasi samudera luas atau mendaki puncak tertinggi, melainkan keberanian untuk melangkah masuk ke dalam relung hatinya sendiri, lalu memilih untuk berdamai dengan segala luka di sana”.
